بسم الله الرحمن الرحيم
Kebahagiaan dan kebinasaan seorang hamba adalah sesuatu yg sudah Allah Subhanahu wata’ala tetapkan. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah menentukan seluruh
takdir makhluk lima ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR.
Muslim no. 2653 dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash Radhiallahu‘anhuma)
Dan nabi Shallallahu’alaihi wasalam bersabda,
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud
radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan :
"Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya
sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes
darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat
puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya
ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya,
ajalnya, amalnya dan sengsara atau kebahagiaannya." (Riwayat Bukhari dan
Muslim).
Di antara ciri-ciri orang yang mendapatkan
kebahagiaan
Dan tentunya kebahagaiaan yang utama, yang
mulia, yang hakiki di sisi Allah Subhanahu wata’ala adalah surga. Allah Ta’ala
firmankan
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka
tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi,
kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada
putus-putusnya.” (Hud: 108)
Dan dikatakan oleh para ulama bahwasanya
kebahagiaan adalah pertolongan Allah Subhanahu wata’ala kepada seorang hamba
untuk mendapatkan kebajikan. Allah Ta’ala berikan ia ilham dan taufik hingga ia
meraih kebaikan demi kebaikan.
Disebutkan oleh Al Imam Ibnul Qayyim Al
Jauziyah, di antara ciri-ciri orang yang mendapatkan kebahagiaan adalah:
1. Bahwasanya seorang hamba tatkala bertambah
ilmunya maka bertambahlah tawadhu’ (rendah hatinya) dan bertambah pula kasih
sayangnya.
Ketika seorang hamba diberi kebaikan demi
kebaikan oleh Allah Ta’ala berupa ilmu, sebagaimana Nabi Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda :
“Barangsiapa yang Allah inginkan untuk
mendapatkan kebaikan, Allah faqihkan di dalam Agama.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari
no. 69, 2884, 6768 dan Muslim no. 1718, 1721 dari shahabat Mu’awiyah bin Abu
Sufyan Radhiallahu ‘anhuma)
Allah Ta’ala beri dia kebaikan dan kemudahan
dalam mencari ilmu dan mengamalkannya, maka semakin hari semakin bertambah
ilmunya dan hapalannya dari Al Quran dan hapalan hadits semakin bertambah, maka
tatkala itulah bertambah pula tawadhu’nya.
Sebagaimana ibarat padi semakin berisi semakin
merendah, tidak seperti bunga yang semakin merekah justru semakin mendongak ke
atas dan akhirnya tatkala tua ia menjadi layu ke bawah.
Maka ketika seseorang sudah memiliki ilmu, ia
dituntut untuk menambah rendah hati dihadapan kaum muslimin dan kasih sayangnya
di hadapan kaum Muslimin. Karena merupakan perkara yang Allah Subhanahu
wata’ala perintahkan kepada Rasul-Nya untuk membersihkan umatnya dari
kotoran-kotoran yang akan merusak hati-hati mereka, dibersihkan dengan ilmu.
Allah Ta’ala berfirman,
"Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan
nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan
ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al
Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum
kamu ketahui." (Al Baqarah: 151)
Berkata Syaikh Nashir As Sa’di, "Allah
Subhanahu wata’ala mensucikan diri-diri kita dan jiwa-jiwa kita dengan mendidik
seseorang di atas akhlak yang mulia dengan ilmu, dan dengan ilmu itu pula Allah
Subhanahu wata’ala membersihkan dari akhlak-akhlak yang tercela"
Lebih lanjut Syaikh As Sa’di menjelaskan bahwa
bentuk-bentuk ilmu yang mensucikan jiwa-jiwa kita adalah, "Dari syirik
menuju tauhid, dari riya’ menuju ikhlash, dari khianat menuju amanah, dari
kedustaan menuju kejujuran, dan dari kesombongan menjadi orang-orang yang
tawadhu’.
Berkata Syaikh Jamil Zainu, "Ilmu yang
bermanfaat adalah ilmu yang membuat hati pemiliknya takut kepada Allah Azza
wajalla, yang membuat pemiliknya beramal shalih, dan yang akan memperbagus
akhlak pemiliknya."
Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam membimbing kita untuk banyak berlindung dari ilmu yg tidak bermanfaat,
sebagaimana doa yang diajarkan nabi Shallalahu’alaihi wasallam, "Ya Allah,
aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Demikian pula semakin bertambah ilmunya maka
semakin bertambahlah kasih sayangnya. Bukannya semakin bertambah ilmu justru
semakin sulit bergaul, semakin kasar, membuat benteng dengan orang lain dan
menghinakan orang lain, bukan seperti itu.
2. Tatkala bertambah amalannya, bertambahlah
rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wata’ala dan semakin berhati-hati.
Setiap hari semakin bertambah amalan ketaatan,
baik amalan yang wajib maupun yang sunnah. Ibadah yang wajib senantiasa ia
kerjakan dan ia menambah amalannya dengan ibadah sunnah sebagaimana dalam
sebuah hadits qudsi,
"Dan tidak henti-hentinya mendekatkan
diri dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku
mencintainya, maka Aku merupakan pendengaran yang ia gunakan, Aku merupakan
penglihatan yang ia gunakan, Aku merupakan tangan yang ia gunakan untuk
menyerang dan Aku merupakan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia
memohon kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan
kepada-Ku niscaya aku melindunginya." (Shahih Bukhari no 6502 dari Abu
Hurairah Radhiallahu’anhu)
Maka ketika bertambah amalan-amalannya ini
justru ia semakin khawatir amalan ini tidak diterima Allah Ta’ala maka ia terus
menambah amalannya dan berhati-hati. Dan terus meminta tolong kepada Allah
Subhanahu wata’ala sebagaimana doa,
“Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk
menyebut namaMu, syukur kepadaMu dan ibadah yang baik untukMu.” (HR. Abu Dawud
2/86 dan An-Nasai 3/53. Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Abi Dawud,
1/284)
Lihatlah qudwah kita Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam ketika Aisyah Radhiallahu’anha mengabarkan,
Qiyamullail sampai bengkak kakinya. Kata ‘Aisyah Radliyallahu ‘anha, “Ya
Rasulullah, Ya Nabiyyalah, bukankah engkau telah diampuni oleh Allah segala
dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?" Kemudian Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam menjawab, "Tidakkah boleh aku menjadi seorang
hamba yang penuh syukur kepada Allah atas kenikmatan yang diberikan
kepadaku?"
Ini menunjukkan takutnya beliau akan
amalan-amalannya, demikian pula shahabat nabi ketika nabi Shallallahu’alaihi
wasallam menyebutkan 10 shahabat yang dijamin masuk surga, namun Umar bin
Khathab masih datang kepada Hudzaifah ibnul Yaman, "Apakah Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam mencantumkan namaku dalam deretan orang-orang
munafiq?" Inilah rasa takut beliau padahal nabi Shallallahu’alaihi
wasallam telah mengabarkan kedudukan beliau dan telah dibangunkan istana beliau
yang megah di surga.
Tidak ada kebanggaan para shahabat dan Salafus
Shalih ketika bertambah amalannya justru khawatir dan semakin khwatir. Nabi
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
"Demi Allah yang tidak ada Ilah
selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli
surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah
ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah
dia ke dalam neraka." (Riwayat Bukhori dan Muslim dari Abu Abdurrahman
Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu)
3. Tatkala bertambah umurnya, maka semakin
berkurang rasa tamaknya terhadap dunia.
Dalam sebuah hadits disebutkan,
"Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi
Radhiallahu’anhu dia berkata: Seseorang mendatangi Rasulullah
Shallallahu‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata : Wahai Rasulullah, tunjukkan
kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan
mencintaiku, maka beliau bersabda: Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan
dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan
dicintai manusia." (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya dengan
sanad hasan)
Pengertian zuhud adalah meninggalkan
perkara-perkara yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya. Dan inilah salah satu
sifat orang-orang mukmin tidak terjerumus dalam perkara-perkara yang tidak ada
manfaatnya.
Sehingga Allah kabarkan dari sifat orang-orang
mukmin di antaranya,
"Dan orang-orang yang menjauhkan diri
dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna" (Al Mukminun: 3)
Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
"Dan apabila mereka bertemu dengan
(orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka
lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya." (Al Furqaan: 72)
Berbuat zuhud di sisi manusia artinya tidak
mengharapkan apa-apa yang dimiliki manusia. Ia ikhlash dalam memberi tanpa
mengharapkan imbalan dari apa yang telah ia korbankan, sehingga hal ini
menmbulkan kecintaan manusia kepadanya.
Demikian juga Ar Rasul Shallallahu’alaihi
wasallam dalam sebuah haditsnya tentang orang yang semakin panjang umurnya
justru semakin berkurang rasa tamaknya terhadap dunia,
Dari Abu Shafwan Abdullah bin Busrin
Al-Aslamiy Radhiallahu’anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya serta
baik pula amal perbuatannya." (HR. Turmudzi)
Agar kita mampu menundukkan angan-angan ketika
kita diberikan umur yang mulia ini, maka ketahuilah bahwa jiwa kita ini akan
menjadi cinta bila ia dididik untuk mencintai sesuatu. Dan sebaliknya jika ia
dididik untuk mencintai perkara-perkara yang cukup, maka iapun akan merasa
cukup.
4. Tatkala bertambah hartanya, maka semakin
bertambah pula kedermawanannya dan kemauannya untuk membantu sesama
Lihatlah contoh Abu Bakar Ash Shiddiq ketika
Rasul membawakan keutamaan infak maka ia tanpa berpikir panjang untuk
menginfakkan hartanya.
Demikian pula Al-Imam Muslim telah
meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Jarir bin ‘Abdillah ia berkata: "Pernah
kami berada di sisi Rasulullah pada awal siang, ia berkata: "Maka
datanglah suatu kaum yang tak beralas kaki, tidak mengenakan pakaian dan hanya
mengenakan mantel, terhunus pedangnya, mayoritas mereka dari Bani Mudhor bahkan
keseluruhannya. Memerahlah wajah Rasulullah ketika melihat keadaan mereka yang
sangat mengenaskan itu akibat kemiskinan.
Lalu beliau masuk, kemudian keluar dan
memerintahkan Bilal untuk adzan dan iqomah, lalu shalat kemudian berkhuthbah
(dengan khuthbatul hajat).
Setelah itu seseorang bersedekah dengan
dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, gandumnya dan kurmanya. (Sampai ia berkata):
"Walaupun dengan separuh buah kurma."
Ia berkata: "Kemudian datang seorang
lelaki dari Anshor dengan bungkusan, hingga tangannya hampir tidak mampu
menanggungnya."
Ia berkata: "Kemudian manusia
mengikutinya, hingga aku melihat dua tumpukan makanan dan pakaian dan aku perhatikan
wajah Rasulullah berseri-seri seakan-akan sepotong emas yang berkilau.
Bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam:
“Siapa yang melakukan satu sunnah hasanah
dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang
mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka
sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu sunnah sayyiah dalam Islam, maka ia
mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut
setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Shahih Muslim
no. 2348, 6741, Sunan An-Nasa‘i no.2554, Sunan At-Tirmidzi no. 2675, Sunan Ibnu
Majah no. 203, Musnad Ahmad 5/357, 358, 359, 360, 361, 362 dan juga diriwayatkan
oleh yang lainnya)
Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia
pun turut memberi dorongan kepada para wanita untuk bersedekah, sebagaimana
dalam hadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma. Ia bertutur:
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat
pada hari Idul Fithri dua rakaat dan tidak shalat sebelum maupun sesudahnya.
Kemudian (setelah menyampaikan khutbah kepada hadirin) beliau mendatangi tempat
para wanita sementara Bilal menyertai beliau. Beliau memerintahkan mereka untuk
bersedekah. Maka mulailah mereka melemparkan perhiasan mereka (ke kain yang
dibentangkan Bilal untuk menampung sedekah), ada wanita yang melemparkan
anting-anting dan kalungnya.” (HR. Al-Bukhari no. 964 dan Muslim no. 2054)
Dan Allah Ta’ala sebutkan di antara yang akan
mewarisi surga Firdaus adalah orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun
sempit. Allah Ta’ala berfirman,
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan
dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang
menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit." (Ali Imran:
133-134)
Dan itulah sifat orang yang berbahagia ketika
bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanannnya karena itulah yang akan
mensucikan harta-hartanya.
Di antara bentuk kebaikan telah Allah
Subhanahu wata’ala jelaskan adalah berinfak sebagaimana dalam firman-Nya,
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah
timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu
ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa." (Al Baqarah: 177)
5. Tatkala bertambah kedudukan dan
kemuliannya, maka ia semakin dekat dengan manusia dan menunaikan kebutuhan
mereka dan tawadhu’ kepada mereka
Dan ini mencakup tatkala seseorang semakin
bertambah kedudukan dalam pangkat dan jabatan maka ia semakin dekat dengan
manusia, demikian pula tatkala sesorang semakin bertambah kedudukan dalam hal
keilmuan dalam diin (agama) ia semakin bertambah dekat dengan manusia dan
membantu kebutuhan mereka dalam mengajarkan mereka ilmu-ilmu ad diinul
Islam. Seperti seorang kakak kelas
senior mau membantu adik-adik yuniornya dalam memberikan istifadah, mengajarkan
mereka yang tertinggal pelajaran.
Lihatlah Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam duduk dengan shahabatnya Radhiallahu’anhum, baik yang miskin maupun
kaya, yang tua maupun yang masih kecil. Dalam sebuah hadits disebutkan nabi
Shallallahu’alaihi wasallam makan dengan Amr bin Abi Salamah yang waktu itu
masih kecil. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat seorang
anak yang tangannya menjelajahi makanan yang terhidang saat itu. Lalu beliau
pun mengajarinya tata-cara makan yang benar:
“Nak, sebutlah dulu nama Allah, makan dengan
tangan kananmu, dan makan dari makanan yang dekat denganmu.” (HR. Al-Bukhari
no. 5376 dan Muslim no. 2022)
Demikian pula tatkala seorang budak wanita
yang terbiasa membersihkan masjid Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tidak
terlihat, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada shahabatnya
tentang wanita tersebut, Shahabat mengatakan bahwa ia meninggal. Rasulullah
marah seraya berkata, "Mengapa kalian tidak memberitahu aku" Shahabat
mengganggap remeh perkara meninggalnya wanita itu. Maka Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam berkata, "Tunjukkan padaku di mana kuburannya"
Dan setelah ditunjukkan maka nabi Shallallahu’alaihi wasallam menyolatkan
wanita tersebut di atas kuburannya.
Wallahu a’lam