AL MUBAROK MAGETAN
berusaha istiqomah diatas sunnah
Kamis, 16 November 2017
Selasa, 16 Agustus 2016
Senin, 27 April 2015
FITNAH
SUBHAT DAN SYAHWAT
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan” (H.R Ahmad).
Hadits
yang mulia diatas mengisyaratkan adanya dua fitnah besar yang di lancarkan oleh
syaiton dan pasukanya kepada manusia, ykni fitnah syahwat dan fitnah subhat :
1.
Fitnah Syahwat
Ragam
ujian itu pun benar-benar membutuhkan perjuangan dan kesabaran yang sangat
tinggi. Godaan syahwat demikian gencarnya menerpa iman dan jiwa seseorang.
Wanita dengan berbagai model dan aksen selalu mengiringi derap langkah manusia
sepanjang zaman. Penampilan yang norak dan pakaian serba minim telah merambah
putri-putri kaum muslimin.
Tak
hanya kawula muda, para ibu rumah tangga sekalipun tak luput darinya.
Akibatnya, mental dan rasa malunya setahap demi setahap terkikis seiring dengan
lajunya arus modernisasi. Tak mengherankan apabila mereka menjadi ikon utama
dalam dunia iklan, baik di media cetak maupun media elektronik.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً
أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah
aku tinggalkan setelahku sebuah godaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki
daripada wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096 dan Muslim
no. 2741, dari Usamah bin Zaid rahimahumallah)
Betapa
banyak para pemuda yang tak bisa bersabar terhadap godaan wanita. Betapa banyak
para suami yang tak mampu bersabar di atas ketaatan karena godaan sang istri.
Enggan untuk istiqamah karena tak disetujui oleh istri. Tak mau hadir di
majelis-majelis taklim karena “takut” dengan istri. Bahkan, terkadang ia siap
melakukan perbuatan maksiat; wirausaha dengan cara yang haram, mencuri,
merampok, menipu, dan semisalnya demi memenuhi tuntutan istri. Dunia dan
akhiratnya rusak akibat godaan wanita. Wallahul musta’an.
Di
antara godaan syahwat yang juga berbahaya bagi kehidupan beragama seorang
muslim adalah harta. Slogan “waktu adalah uang” menjadi prinsip hidup sebagian
orang. Berpegang teguh dengan agama akan mewariskan kemiskinan dan
kesengsaraan, dianggap suatu keniscayaan. Tak mengherankan apabila sebagian
orang ada yang menjadikan harta sebagai tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan.
Fenomena ini sungguh telah terjadi pada diri Qarun, seorang konglomerat di masa
Nabi Musa ‘Alaihissalam yang dibinasakan oleh Allah Subhanahu wata’ala.
Menurut Qarun, limpahan harta yang ada pada dirinya merupakan bukti kesuksesan
dan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala kepadanya, sedangkan Nabi Musa
alaihissalam dan yang bersamanya tidak
mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wata’ala karena tdk
sukses dari sisi harta. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala membantah persangkaan Qarun yang batil itu
dengan firman-Nya Subhanahu wata’ala,
أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ
أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً
وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ
الْمُجْرِمُونَ
“Apakah
dia tidak mengetahui bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat-umat
sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan
tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang jahat itu tentang dosa-dosa
mereka.” (al-Qashash: 78)
Ujian
harta ternyata tidak hanya menerpa orang awam atau anak jalanan semata, tetapi
orang berilmu pun nyaris terancam manakala orientasi hidupnya adalah dunia. Di
mana ada “lahan basah” dia pun ada di sana, walaupun harus mengikuti keinginan big
boss-nya yang kerap kali tak sesuai dengan syariat dan hati nuraninya.
Syahdan, ketika hawa nafsu telah membelenggu fitrah sucinya, ayat-ayat
Allah Subhanahu wata’ala (agama) dia jual dengan harga yang murah
dan manhaj (prinsip agamanya) pun dia korbankan demi meraih kelayakan hidup
atau kemapanan ekonomi. Dengan tegas Allah Subhanahu wata’ala
memperingatkan orang-orang berilmu dari perbuatan yang tercela itu, sebagaimana
firman-Nya,
إنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ
الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ
أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ
اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ () أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ
وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ
“Sesungguhnya
orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab
dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak
memakan (tidak menelan) ke dalamperutnya melainkan api. Allah tidak akan
berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan
bagi mereka siksa yang pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan
dengan petunjuk dan (membeli) siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya
mereka menghadapi api neraka!” (al-Baqarah:
174—175)
Ada
hal penting yang patut diperhatikan. Sikap selektif dan sensitif dalam
mendapatkan harta harus selalu dimiliki oleh setiap muslim, baik untuk
kehidupan pribadi maupun kepentingan dakwahnya. Tidak asal comot. Tidak pula
pakai prinsip “aji mumpung”. Mumpung ada dana, diterima sajalah!? Tanpa
mencermati dari mana datangnya dana tersebut, apa latar belakangnya, dan apa
pula efek setelah mendapatkannya, baik yang berkaitan dengan dirinya maupun
dakwah secara umum.
Langkah-langkah
di atas seyogianya ditempuh oleh setiap muslim sekalipun dana tersebut berasal
dari lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau bahkan yang
mengatasnamakan Ahlus Sunnah. Betapa banyak lembaga/yayasan yang bergerak di
bidang keagamaan atau yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah, realitasnya jauh
panggang dari api. Sudahkah kita bersabar menghadapi kondisi yang semacam ini?
Marilah kita menengok kesabaran diri, mudahmudahan taufik dan inayah
Allah Subhanahu wata’ala selalu bersama kita. Amiin…
2.
Fitnah subhat
Adapun
godaan syubhat yang berupa kerancuan berpikir tak kalah dahsyatnya dengan
godaan syahwat. Aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan Islam bermunculan,
kesyirikan dipromosikan tanpa ada halangan, para dukun alias orang pintar
dijadikan rujukan, ngalap berkah di kuburan para wali menjadi tren wisata religius
(agama), dan praktik bid’ah (sesuatu yang diada-adakan) dalam agama meruak
dengan dalih bid’ah hasanah. Semua itu mengingatkan kita akan sabda Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam,
بَادِرُوا بِا عْألَْمَالِ فِتَنًا
كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِم،ِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ
كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ
مِنَ الدُّنْيَا
“Bergegaslah
kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah (ujian dan cobaan)
layaknya potongan-potongan malam. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman
dan sore harinya dalam keadaan kafir. Di sore hari dalam keadaan beriman dan
keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari
(gemerlapnya) dunia ini.” (HR.
Muslim no.118, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Sebagian
ulama’ berkata, “Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam seorang yang jujur lagi tepercaya telah memberitakan
kepada kita dalam banyak haditsnya, termasuk hadits Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu tadi tentang bermunculannya
ragam ujian di tengah umat. Sungguh, telah datang berbagai ujian besar yang
sangat kuat menghempas akidah dan manhaj (prinsip beragama) umat Islam,
mencabik-cabik keutuhan mereka, menyebabkan pertumpahan darah antarmereka, dan
menjatuhkan kehormatan mereka. Bahkan, benarbenar telah menjadi kenyataan (pada
umat ini) apa yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ
قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وَذِرَاعاً بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ
ضَبٍّ لَتَبِعْتُمُوْهُمْ
‘Sungguh
kalian akan mengikuti jalan/jejak orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan
Nasrani, -pen.) sejengkal dengan sejengkal
dan sehasta dengan sehasta1. Sampai-sampai jika mereka masuk ke liang binatang
dhab (sejenis biawak yang hidup di padang pasir, -pen.) pasti kalian
akan mengikutinya’.”
Lebih
lanjut, Saat ini di banyak negeri kaum muslimin muncul berbagai keburukan,
seperti komunis, liberal, sekuler, sosialis, dan demokrasi dengan segala
perangkatnya. Kelompok sesat Syiah Rafidhah dan Khawarij pun semakin gencar
mengembuskan racun-racun yang dahulu mereka sembunyikan. Sebagaimana pula telah
muncul kelompok sesat kelompok sesat
yang lainya.
Di
era ini, keberadaan ujian syahwat dan syubhat semakin mengglobal. Terpaannya
pun semakin dahsyat terhadap iman dan jiwa seseorang. Bagaimana tidak?! Ragam
godaan syahwat dan syubhat dari manca negara dengan mudah dapat disaksikan di
berbagai media. Terlebih lagi di internet, semuanya dapat diakses secara bebas
dan mudah.
Fitnah syubhat
ditangkal dengan keyakinan (di atas ilmu yang benar), adapun fitnah syahwat
ditangkal dengan kesabaran. Oleh karena itu Allah Ta’ala menjadikan
kepemimpinan agama bergantung kepada dua perkara ini (sabar dan
yakin). Allah Ta’ala berfirman:
وَجَعَلْنَا
مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا
بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami
jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan
perintah Kami selama mereka sabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As
Sajdah 24).
Ayat tersebut
menunjukkan bahwa dengan sabar dan yakin, kepemimpinan dalam agama akan dapat
diraih. Allah Ta’ala menyatukan keduanya juga dalam firman-Nya:
وَتَوَاصَوْا
بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Dan saling
menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al
‘Ashr: 3).
Maka saling
menasehati dalam kebenaran akan dapat
melawan syubhat, dan saling menasehati dalam kesabaran akan menghentikan
syahwat.
Akhir
kata, semoga Allah Subhanahu wata’ala menganugerahkan
kesabaran diri kepada kita sehingga dimudahkan untuk istiqamah di atas
kebenaran dan keyakinan kala ujian dan cobaan menerpa. Amiin, Ya Mujibas
sailin….
__________________________________________
KEUTAMAAN SAHABAT NABI Shallallahu
‘alaihi wasallam
Khutbah Pertama:
إِنَّ
الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ
اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا ا الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبً.
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْ سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا
بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ
مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui seluruh perbuatan hambahamba- Nya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain Allah Subhanahu wata’ala semata yang tidak ada tandingan bagi- Nya serta saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan- Nya, penutup para nabi yang tidak ada nabi setelahnya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi kita Muhammad dan keluarganya, serta para sahabatnya dan kaum muslimin yang mengikuti petunjuknya.
Hadirin rahimakumullah,
Di dalam ayat-Nya yang mulia, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَالسَّابِقُونَ
الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم
بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ
ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari
golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah
menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya
selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenanganyang besar.” (at-Taubah:100)Ayat yang mulia ini dan semisalnya yang disebutkan di dalam al-Qur’an, dengan sangat jelas menunjukkan keutamaan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang dipilih untuk menjadi pendahulu dalam menerima dakwah dan mereka juga manusia terdepan dalam membawa risalah Islam. Mereka adalah orang-orang yang telah dipilih sebagai sahabat yang siap membela dan menolong Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka telah berjuang dengan segenap kemampuan untuk meninggikan agama Allah Subhanahu wata’ala dan mendakwahkannya. Andaikan mereka para sahabat dahulu di masanya tertimpa bencana hingga menewaskan mereka semua, maka generasi yang datang berikutnya tidak akan mengetahui al- Qur’an dan as-Sunnah.
Oleh karena itu, disebutkan dalam sejarah bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan sendiri kegigihan para sahabat menjelang pertempuran menghadapi orang-orang musyrikin pada Perang Badr seraya menengadah ke arah langit, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,
اللَّهُمَّ
إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي
الأَرْضِ
“Ya Allah, jika Engkau timpakan bencana yang membinasakan sekelompok dari
kaum muslimin (sahabat) ini maka Engkau tidak akan diibadahi lagi di muka
bumi.” (HR. Muslim)Hadirin rahimakumullah,
Dengan demikian, jelaslah betapa besarnya keutamaan para sahabat. Kejujuran iman dan ketakwaan serta kesungguhan mereka dalam menjalankan agama Islam telah dinyatakan dan dikuatkan dalam al-Qur’an dan as- Sunnah. Nabi Muhammad n telah berpesan dan memperingatkan pada umat ini agar memuliakan sahabat dan tidak menghinakan mereka, sebagaimana dalam sabdanya,
لاَ
تَسُبُّوا أَصْحَابِي لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ
أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ
وَ نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabatku, janganlah kalian mencela sahabatku.
Demi Allah, seandainya salah seorang di antara kalian berinfak emas sebesar
Gunung Uhud maka tidak akan menyamai infak satu mud (takaran seukuran dua
telapak tangan yang digabungkan) dari mereka bahkan tidak pula menyamai
setengahnya (setengah mud dari infak mereka).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)Hadirin rahimakumullah,
Lihatlah , betapa jauhnya perbandingan nilai ibadah antara sahabat dan generasi berikutnya. Meskipun jenis ibadah yang dilakukan sama, yaitu infak, namun nilainya sangat jauh berbeda. Hal ini jelas menunjukkan keutamaan sahabat yang sangat besar dibanding yang lainnya. Bagaimana tidak ? Mereka para sahabat adalah generasi yang menjadi perantara antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan umatnya. Merekalah yang telah menyampaikan al-Qur’an kepada generasi yang datang berikutnya. Mereka pula yang telah meriwayatkan hadits hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Hadirin rahimakumullah,
Keutamaan sahabat juga disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,
خَيْرُ
النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang hidup di masaku, kemudian generasi
yang datang setelah mereka, dan kemudian yang datang selanjutnya.” (HR.
al-Bukhari dan Muslim)Oleh karena itu, orang yang berani menjatuhkan dan mencela sahabat pada hakikatnya bukanlah sekadar merendahkan pribadi mereka. Bukan pula sekadar merendahkan atau melupakan keutamaan generasi yang telah dinyatakan sebagai generasi terbaik yang memiliki keutamaan di atas generasi yang datang berikutnya. Mencela para sahabat pada hakikatnya adalah mengingkari kebenaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta berpaling dari al- Qur’an dan as-Sunnah.
Mengapa demikian? Sebab, mereka telah dinyatakan sebagai generasi yang ‘udul, yaitu generasi yang telah dipercaya dalam kejujuran dan ketepatannya dalam menyampaikan apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kejujuran dan amanah para sahabat mengharuskan kita untuk tidak perlu lagi meneliti atau memeriksa keadaan mereka. Sebab Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya telah menyatakan kejujuran dan kehati-hatian mereka dalam menyampaikan al-Qur’an dan al-Hadits.
Jadi, mencela mereka, para sahabat, memiliki konsekuensi yang sangat berbahaya dan sangat besar, karena pada hakikatnya meragukan kebenaran penyampaian al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah sampai kepada kaum muslimin melalui mereka. Maka dari itu, mencela para sahabat akan berkonsekuensi pada meragukan al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih, yang berarti akan meragukan dan mencela agama Islam itu sendiri.
Oleh karena itu, kita akan dapati, orang-orang yang berani mencela para sahabat pada akhirnya akan menolak banyak dari hukum-hukum Allah Subhanahu wata’ala dan akan melanggar batas-batas syariat-Nya.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Kaum muslimin wajib untuk memenuhi hatinya dengan kecintaan kepada para sahabat karena mencintai mereka adalah bukti kecintaan seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kecintaan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di samping itu, wajib bagi kaum muslimin untuk menjaga lisan sehingga tidak mengucapkan kata-kata yang tidak pantas apalagi merendahkan para sahabat. Dengan sikap seperti ini, yang muncul dari lisan seorang muslim adalah kata-kata pujian, doa kebaikan, dan yang semisalnya. Demikianlah manhaj dan prinsip Ahlus Sunnah dalam bersikap kepada para sahabat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَالَّذِينَ
جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا
لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka
berdoa, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudarasaudara kami yang telah
beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian
dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya
Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 10)Akhirnya, marilah kita terus memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar senantiasa diberi hidayah dan taufik-Nya agar istiqamah di atas jalan yang benar dan diselamatkan dari akidah-akidah yang menyimpang, yaitu akidah yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ
رَبِّ الْعَالمَِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ
الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ
وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَكْمَلَ بِهِ الدِّيْنَ، وَأَرْسَلَهُ رَحْمَةً
لِلْعَالمَِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ :
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,Meyakini kejujuran dan amanah para sahabat dalam menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah keharusan karena hal tersebut menunjukkan cintanya seseorang kepada mereka. Begitu pula menjaga lisan dari menghina dan merendahkan mereka adalah merupakan bentuk dari pengagungan terhadap al- Qur’an dan as-Sunnah serta pembelaan terhadap agama Islam.
Hadirin rahimakumullah,
Oleh karena itu, tidak boleh bagi kaum muslimin untuk ikut larut dalam fitnah atau pertikaian yang terjadi di antara para sahabat. Jangan tertipu dengan pemikiran yang seakan-akan memuliakan ahlul bait atau salah seorang sahabat namun dengan menjatuhkan sahabat yang lain sebagaimana keyakinan kelompok sesat yang disebut Syiah yang di antara akidahnya adalah menghina para sahabat dan juga istri Nabi n.
Bahkan, mereka mengafirkan sebagian besar para sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini. Maka dari itu, wajib bagi kaum muslimin untuk berhati-hati dari agama yang menyimpang ini. Dengan berbagai tipu dayanya, mereka berupaya untuk memengaruhi kaum muslimin. Kaum muslimin benar-benar terancam oleh bahaya yang akan merusak agama mereka jika tidak waspada dan menjauhi kelompok sesat ini. Apalagi ketika sebagian orang yang ditokohkan oleh kaum muslimin menyatakan bahwa kelompok ini bukanlah kelompok yang sesat, maka ancamannya semakin besar. Mereka juga akan semakin gencar menyebarkan ajarannya karena mendapat angin segar untuk menyebarkan ajaran sesatnya.
Akibatnya, banyak kaum muslimin di negeri ini yang terpengaruh dengan pemikiran sesat mereka, bahkan banyak yang tertarik mendalaminya dengan mengikuti pendidikan secara cumacuma di negeri Iran yang merupakan negeri Syiah.
Hadirin rahimakumullah,
Akhirnya kita memohon kepada Allah Subhanahu wata’alaagar menunjukkan kepada kita kebenaran sebagai kebenaran untuk kita menjalankannya dan agar Allah Subhanahu wata’ala menunjukkan kepada kita kesalahan sebagai kesalahan untuk kita menjauhinya.
(Tulisan ini dsampaikan pd khutbah jum'at di Al Amin Jl.Thamrin Magetan oleh Kang Asri)
__________________________________________
Anak dan Masa Depan Umat Islam
Anak adalah harapan di masa yang akan
datang. Kalimat seperti ini sudah seringkali kita dengar. Tak ada yang
memungkiri ucapan itu, karena memang itu sebuah kenyataan bukan hanya sekedar
ungkapan perumpamaan, benar-benar terjadi bukan sebatas khayalan belaka.
Karenanya sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal mendidiknya
sehingga kelak mereka menjadi para penegak dan pelopor masa depan umat Islam.
Lingkungan pertama yang berperan
penting menjaga keberadaan anak adalah keluarganya, sebagai “lembaga”
pendidikan yang paling dominan. Sesungguhnya anak itu adalah amanat bagi kedua
orangtuanya. Di saat hatinya masih bersih, putih, sebening kaca, jika sedari
kecil dibiasakan dengan kebaikan dan diajari, maka ia pun akan tumbuh menjadi
seorang yang baik, insya Allah akan bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya
jika sedari kecil dibiasakan dengan kejelekan dan hal-hal yang buruk, serta
diterlantarkan, maka kelak akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian
rusak dan hancur. Kerugian yang lebih besar yang akan dipikul kedua orang
tuanya dan umat umumnya.
Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah,
“Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah
bersumber dari orangtuanya.” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita
dengan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai
Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6).
Keluarga, terlebih khusus kedua
orangtua (atau walinya) adalah unsur-unsur yang paling berpengaruh dalam
membangun kepribadian seorang anak.
Zubair bin Awam, adalah salah seorang dari pasukan
berkudanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, disebut oleh Umar ibnul
Khattab sebagai, “Satu orang Zubair menandingi seribu orang laki-laki.” Hal ini
dikarenakan ia seorang pemuda yang kokoh aqidahnya, terpuji akhlaqnya, tumbuh
di bawah binaan ibunya Shofiyah binti Abdul Mutholib, bibinya Rasulullah dan
saudara perempuannya Hamzah.
Ali bin Abi Tholib sejak kecil menemani Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wassalam bahkan dipilih menjadi menantunya. Ia tumbuh
sebagai sosok seorang pemuda teladan bagi para pemuda seusianya, dia tumbuh di
bawah didikan ibunya Fathimah binti Asad dan yang menjadi mertuanya Khodijah
binti Khuwailid.
Begitu pula dengan Abdullah bin Ja’far, seorang
bangsawan Arab yang terkenal kebaikannya, di bawah bimbingan ibunya Asma binti
Umais.
Orangtua mana yang tidak gembira jika
anaknya tumbuh seperti Umar ibnu Abdul Aziz. Pada usianya yang masih kecil ia
menangis, kemudian ibunya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis ?”. Ia
menjawab, “Aku ingat mati.” – waktu itu ia telah menghafal Al Qur’an – ibunya
pun menangis mendengar penuturannya.
Berkat didikan dan penjagaan ibunya yang sholihah,
Sufyan Ats Tsauri menjadi ulama besar, amirul mukminin dalam hal hadits. Saat
ia masih kecil ibunya berkata padanya, “Carilah ilmu, aku akan memenuhi
kebutuhanmu dengan hasil tenunanku.”
Subhanallah, anak-anak kita rindu akan ucapan dan
kasih sayang seorang ibu yang seperti ini, seorang ibu yang pandangannya jauh
ke depan. Seorang ibu yang amat arif
bijaksana.
Ayyuhal ikhwah -semoga dirahmati Allah- lihatlah
bagaimana para pendahulu kita yg sholih, mereka mengerahkan segala usaha dan
waktunya dalam rangka mentarbiyah anak-anaknya yang kelak menjadi penentu baik
buruknya masa depan umat. Jangan sampai seorang pun di antara kita berprasangka
mencontoh para pendahulu yang sholih adalah berarti kembali ke belakang. Di
saat orang-orang berlomba-lomba meraih gengsi modernisasi, ketahuilah bahwa
mencontoh sebaik-baik umat yang dilahirkan di tengah-tengah manusia adalah
berarti satu kemajuan yang besar, cara yang amat canggih dalam membangun
aqidah, memperbaiki akhlaq yang bejat serta membendung semaraknya free
children, sehingga menghantarkan mereka kepada apa yang telah diraih oleh
generasi yang mulia, yang tiada tandingannya.
Meniti jalan mereka dalam rangka mentarbiyah
(mendidik) anak berarti mempersiapkan konsep perbaikan umat di masa yang akan
datang. Perhatian serius dan tarbiyah yang benar sangat dibutuhkan di zaman
yang dipenuhi berbagai fitnah ini, baik fitnah syahwat maupun syubhat, yang
terus memburu anak-anak kita dari segala arah.
Siapa yang menggembala kambing di tempat rawan binatang buas, kemudian
dia lalai, maka singa akan menerkam gembalaannya.
Berikut ini adalah beberapa langkah
dasar dalam mendidik, yang telah disarikan dari Al Qur’an dan As-Sunnah :
Pertama : mengajarkan tauhid kepada anak,
mengesakan Allah dalam hal beribadah kepada-Nya, menjadikannya lebih mencintai
Allah daripada selain-Nya, tidak ada yg ditakutinya kecuali Allah. Ini pendidikan
yang paling urgen di atas hal-hal penting lainnya.
Kedua : mengajari mereka sholat dan
membiasakannya berjama’ah.
Ketiga : mengajari mereka agar pandai
bersyukur kepada Allah, kepada kedua orang-tua, dan kepada orang lain.
Keempat : mendidik mereka agar taat kepada
kedua orangtua dalam hal yang bukan maksiat, setelah ketaatan kepada Allah dan
rosul-Nya yang mutlak.
Kelima : menumbuhkan pada diri mereka sikap
muroqobah merasa selalu diawasi Allah. Tidak meremehkan kemaksiatan sekecil
apapun dan tidak merendahkan kebaikan walau sedikit.
Keenam : memberitahu mereka akan wajibnya
mengikuti sabilul mukminin al muwahidin (jalannya mukminin yang bertauhid),
salafush sholih generasi terbaik umat ini, dan memberikan loyalitas kepada
mereka.
Ketujuh : mengarahkan mereka akan pentingnya
ilmu Al Qur’an dan Sunnah.
Kedelapan : menanamkan pada jiwa
mereka sikap tawadlu, rendah hati, dan rujulah serta syaja’ah (kejantanan dan
keberanian). Dan masih banyak lagi selain apa yang penulis uraikan di sini.
Semoga Allah menganugerahkan kepada
kita anak-anak yang sholih. Amin ya Mujiibas sailiin. Allah berfirman, “Dan
orang-orang yang berkata : Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami,
istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah
kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS Al Furqoon: 74).
Ayyuhal ikhwah -semoga dirahmati Allah- begitulah
seharusnya mendidik anak, ini adalah salah satu tugas utama bagi para orangtua,
menelantarkannya berarti menelantarkan amanat yang diberi oleh Allah, membiarkannya
adalah berarti membiarkan kehancuran anak, orangtuanya, umat, bangsa, dan
negara. Sedangkan mendidiknya adalah cahaya masa depan umat yang cerah yang
berarti juga mengangkat derajat sang anak dan derajat kedua orangtuanya di
surga. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Akan diangkat derajat
seorang hamba yang sholih di surga. Lalu ia akan bertanya-tanya: Wahai Rabb apa
yang membuatku begini ?”. Kemudian dikatakan padanya, “Permohonan ampun anakmu
untukmu.” (HR Ahmad dari sahabat Abu Hurairoh). Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman, “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti
mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami
tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat
dengan apa yang dikerjakan nya.” (QS Ath Thuur: 21). Allah-lah yang memberi
taufiq kepada apa yang dicintai-Nya dan diridloi-Nya.
Walhamdulillahi robbil ‘alamin. Wal Ilmu indallah.
Langganan:
Komentar (Atom)