Senin, 27 April 2015




FITNAH SUBHAT DAN SYAHWAT
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan” (H.R Ahmad).

Hadits yang mulia diatas mengisyaratkan adanya dua fitnah besar yang di lancarkan oleh syaiton dan pasukanya kepada manusia, ykni fitnah syahwat dan fitnah subhat :
1.     Fitnah Syahwat
Ragam ujian itu pun benar-benar membutuhkan perjuangan dan kesabaran yang sangat tinggi. Godaan syahwat demikian gencarnya menerpa iman dan jiwa seseorang. Wanita dengan berbagai model dan aksen selalu mengiringi derap langkah manusia sepanjang zaman. Penampilan yang norak dan pakaian serba minim telah merambah putri-putri kaum muslimin.
Tak hanya kawula muda, para ibu rumah tangga sekalipun tak luput darinya. Akibatnya, mental dan rasa malunya setahap demi setahap terkikis seiring dengan lajunya arus modernisasi. Tak mengherankan apabila mereka menjadi ikon utama dalam dunia iklan, baik di media cetak maupun media elektronik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku sebuah godaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2741, dari Usamah bin Zaid rahimahumallah)
Betapa banyak para pemuda yang tak bisa bersabar terhadap godaan wanita. Betapa banyak para suami yang tak mampu bersabar di atas ketaatan karena godaan sang istri. Enggan untuk istiqamah karena tak disetujui oleh istri. Tak mau hadir di majelis-majelis taklim karena “takut” dengan istri. Bahkan, terkadang ia siap melakukan perbuatan maksiat; wirausaha dengan cara yang haram, mencuri, merampok, menipu, dan semisalnya demi memenuhi tuntutan istri. Dunia dan akhiratnya rusak akibat godaan wanita. Wallahul musta’an.
Di antara godaan syahwat yang juga berbahaya bagi kehidupan beragama seorang muslim adalah harta. Slogan “waktu adalah uang” menjadi prinsip hidup sebagian orang. Berpegang teguh dengan agama akan mewariskan kemiskinan dan kesengsaraan, dianggap suatu keniscayaan. Tak mengherankan apabila sebagian orang ada yang menjadikan harta sebagai tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan. Fenomena ini sungguh telah terjadi pada diri Qarun, seorang konglomerat di masa Nabi Musa ‘Alaihissalam yang dibinasakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Menurut Qarun, limpahan harta yang ada pada dirinya merupakan bukti kesuksesan dan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala kepadanya, sedangkan Nabi Musa alaihissalam  dan yang bersamanya tidak mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wata’ala karena tdk sukses dari sisi harta. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala  membantah persangkaan Qarun yang batil itu dengan firman-Nya Subhanahu wata’ala,
أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ
“Apakah dia tidak mengetahui bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang jahat itu tentang dosa-dosa mereka.” (al-Qashash: 78)
Ujian harta ternyata tidak hanya menerpa orang awam atau anak jalanan semata, tetapi orang berilmu pun nyaris terancam manakala orientasi hidupnya adalah dunia. Di mana ada “lahan basah” dia pun ada di sana, walaupun harus mengikuti keinginan big boss-nya yang kerap kali tak sesuai dengan syariat dan hati nuraninya. Syahdan, ketika hawa nafsu telah membelenggu fitrah sucinya, ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala (agama) dia jual dengan harga yang murah dan manhaj (prinsip agamanya) pun dia korbankan demi meraih kelayakan hidup atau kemapanan ekonomi. Dengan tegas Allah Subhanahu wata’ala memperingatkan orang-orang berilmu dari perbuatan yang tercela itu, sebagaimana firman-Nya,
إنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ () أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalamperutnya melainkan api. Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan (membeli) siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menghadapi api neraka!” (al-Baqarah: 174—175)
Ada hal penting yang patut diperhatikan. Sikap selektif dan sensitif dalam mendapatkan harta harus selalu dimiliki oleh setiap muslim, baik untuk kehidupan pribadi maupun kepentingan dakwahnya. Tidak asal comot. Tidak pula pakai prinsip “aji mumpung”. Mumpung ada dana, diterima sajalah!? Tanpa mencermati dari mana datangnya dana tersebut, apa latar belakangnya, dan apa pula efek setelah mendapatkannya, baik yang berkaitan dengan dirinya maupun dakwah secara umum.
Langkah-langkah di atas seyogianya ditempuh oleh setiap muslim sekalipun dana tersebut berasal dari lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau bahkan yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah. Betapa banyak lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah, realitasnya jauh panggang dari api. Sudahkah kita bersabar menghadapi kondisi yang semacam ini? Marilah kita menengok kesabaran diri, mudahmudahan taufik dan inayah Allah Subhanahu wata’ala selalu bersama kita. Amiin…
2. Fitnah subhat
Adapun godaan syubhat yang berupa kerancuan berpikir tak kalah dahsyatnya dengan godaan syahwat. Aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan Islam bermunculan, kesyirikan dipromosikan tanpa ada halangan, para dukun alias orang pintar dijadikan rujukan, ngalap berkah di kuburan para wali menjadi tren wisata religius (agama), dan praktik bid’ah (sesuatu yang diada-adakan) dalam agama meruak dengan dalih bid’ah hasanah. Semua itu mengingatkan kita akan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
بَادِرُوا بِا عْألَْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِم،ِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah (ujian dan cobaan) layaknya potongan-potongan malam. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir. Di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim no.118, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Sebagian ulama’  berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seorang yang jujur lagi tepercaya telah memberitakan kepada kita dalam banyak haditsnya, termasuk hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tadi  tentang bermunculannya ragam ujian di tengah umat. Sungguh, telah datang berbagai ujian besar yang sangat kuat menghempas akidah dan manhaj (prinsip beragama) umat Islam, mencabik-cabik keutuhan mereka, menyebabkan pertumpahan darah antarmereka, dan menjatuhkan kehormatan mereka. Bahkan, benarbenar telah menjadi kenyataan (pada umat ini) apa yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وَذِرَاعاً بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَتَبِعْتُمُوْهُمْ
‘Sungguh kalian akan mengikuti jalan/jejak orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani, -pen.) sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta1. Sampai-sampai jika mereka masuk ke liang binatang dhab (sejenis biawak yang hidup di padang pasir, -pen.) pasti kalian akan mengikutinya’.”
Lebih lanjut, Saat ini di banyak negeri kaum muslimin muncul berbagai keburukan, seperti komunis, liberal, sekuler, sosialis, dan demokrasi dengan segala perangkatnya. Kelompok sesat Syiah Rafidhah dan Khawarij pun semakin gencar mengembuskan racun-racun yang dahulu mereka sembunyikan. Sebagaimana pula telah muncul kelompok sesat  kelompok sesat yang lainya.
Di era ini, keberadaan ujian syahwat dan syubhat semakin mengglobal. Terpaannya pun semakin dahsyat terhadap iman dan jiwa seseorang. Bagaimana tidak?! Ragam godaan syahwat dan syubhat dari manca negara dengan mudah dapat disaksikan di berbagai media. Terlebih lagi di internet, semuanya dapat diakses secara bebas dan mudah.  


SOLUSI / PENANGKAL FITNAH  :
Fitnah syubhat ditangkal dengan keyakinan (di atas ilmu yang benar), adapun fitnah syahwat ditangkal dengan kesabaran. Oleh karena itu Allah Ta’ala menjadikan kepemimpinan agama bergantung kepada dua perkara ini (sabar dan yakin). Allah Ta’ala berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah 24).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa dengan sabar dan yakin, kepemimpinan dalam agama akan dapat diraih. Allah Ta’ala menyatukan keduanya juga dalam firman-Nya:
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Dan saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 3).
Maka saling menasehati dalam kebenaran  akan dapat melawan syubhat, dan saling menasehati dalam kesabaran akan menghentikan syahwat.
Akhir kata, semoga Allah Subhanahu wata’ala  menganugerahkan kesabaran diri kepada kita sehingga dimudahkan untuk istiqamah di atas kebenaran dan keyakinan kala ujian dan cobaan menerpa. Amiin, Ya Mujibas sailin….


  __________________________________________


KEUTAMAAN SAHABAT NABI Shallallahu ‘alaihi wasallam
Khutbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا ا الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبً.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْ سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui seluruh perbuatan hambahamba- Nya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain Allah Subhanahu wata’ala semata yang tidak ada tandingan bagi- Nya serta saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan- Nya, penutup para nabi yang tidak ada nabi setelahnya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi kita Muhammad dan keluarganya, serta para sahabatnya dan kaum muslimin yang mengikuti petunjuknya.
Hadirin rahimakumullah,
Di dalam ayat-Nya yang mulia, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenanganyang besar.” (at-Taubah:100)
Ayat yang mulia ini dan semisalnya yang disebutkan di dalam al-Qur’an, dengan sangat jelas menunjukkan keutamaan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang dipilih untuk menjadi pendahulu dalam menerima dakwah dan mereka juga manusia terdepan dalam membawa risalah Islam. Mereka adalah orang-orang yang telah dipilih sebagai sahabat yang siap membela dan menolong Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka telah berjuang dengan segenap kemampuan untuk meninggikan agama Allah Subhanahu wata’ala dan mendakwahkannya. Andaikan mereka para sahabat dahulu di masanya tertimpa bencana hingga menewaskan mereka semua, maka generasi yang datang berikutnya tidak akan mengetahui al- Qur’an dan as-Sunnah.
Oleh karena itu, disebutkan dalam sejarah bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan sendiri kegigihan para sahabat menjelang pertempuran menghadapi orang-orang musyrikin pada Perang Badr seraya menengadah ke arah langit, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,
اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ
“Ya Allah, jika Engkau timpakan bencana yang membinasakan sekelompok dari kaum muslimin (sahabat) ini maka Engkau tidak akan diibadahi lagi di muka bumi.” (HR. Muslim)
Hadirin rahimakumullah,
Dengan demikian, jelaslah betapa besarnya keutamaan para sahabat. Kejujuran iman dan ketakwaan serta kesungguhan mereka dalam menjalankan agama Islam telah dinyatakan dan dikuatkan dalam al-Qur’an dan as- Sunnah. Nabi Muhammad n telah berpesan dan memperingatkan pada umat ini agar memuliakan sahabat dan tidak menghinakan mereka, sebagaimana dalam sabdanya,
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabatku, janganlah kalian mencela sahabatku. Demi Allah, seandainya salah seorang di antara kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud maka tidak akan menyamai infak satu mud (takaran seukuran dua telapak tangan yang digabungkan) dari mereka bahkan tidak pula menyamai setengahnya (setengah mud dari infak mereka).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadirin rahimakumullah,
Lihatlah , betapa jauhnya perbandingan nilai ibadah antara sahabat dan generasi berikutnya. Meskipun jenis ibadah yang dilakukan sama, yaitu infak, namun nilainya sangat jauh berbeda. Hal ini jelas menunjukkan keutamaan sahabat yang sangat besar dibanding yang lainnya. Bagaimana tidak ? Mereka para sahabat adalah generasi yang menjadi perantara antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan umatnya. Merekalah yang telah menyampaikan al-Qur’an kepada generasi yang datang berikutnya. Mereka pula yang telah meriwayatkan hadits hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Hadirin rahimakumullah,
Keutamaan sahabat juga disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang hidup di masaku, kemudian generasi yang datang setelah mereka, dan kemudian yang datang selanjutnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, orang yang berani menjatuhkan dan mencela sahabat pada hakikatnya bukanlah sekadar merendahkan pribadi mereka. Bukan pula sekadar merendahkan atau melupakan keutamaan generasi yang telah dinyatakan sebagai generasi terbaik yang memiliki keutamaan di atas generasi yang datang berikutnya. Mencela para sahabat pada hakikatnya adalah mengingkari kebenaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta berpaling dari al- Qur’an dan as-Sunnah.
Mengapa demikian? Sebab, mereka telah dinyatakan sebagai generasi yang ‘udul, yaitu generasi yang telah dipercaya dalam kejujuran dan ketepatannya dalam menyampaikan apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kejujuran dan amanah para sahabat mengharuskan kita untuk tidak perlu lagi meneliti atau memeriksa keadaan mereka. Sebab Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya telah menyatakan kejujuran dan kehati-hatian mereka dalam menyampaikan al-Qur’an dan al-Hadits.
Jadi, mencela mereka, para sahabat, memiliki konsekuensi yang sangat berbahaya dan sangat besar, karena pada hakikatnya meragukan kebenaran penyampaian al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah sampai kepada kaum muslimin melalui mereka. Maka dari itu, mencela para sahabat akan berkonsekuensi pada meragukan al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih, yang berarti akan meragukan dan mencela agama Islam itu sendiri.
Oleh karena itu, kita akan dapati, orang-orang yang berani mencela para sahabat pada akhirnya akan menolak banyak dari hukum-hukum Allah Subhanahu wata’ala dan akan melanggar batas-batas syariat-Nya.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Kaum muslimin wajib untuk memenuhi hatinya dengan kecintaan kepada para sahabat karena mencintai mereka adalah bukti kecintaan seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kecintaan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di samping itu, wajib bagi kaum muslimin untuk menjaga lisan sehingga tidak mengucapkan kata-kata yang tidak pantas apalagi merendahkan para sahabat. Dengan sikap seperti ini, yang muncul dari lisan seorang muslim adalah kata-kata pujian, doa kebaikan, dan yang semisalnya. Demikianlah manhaj dan prinsip Ahlus Sunnah dalam bersikap kepada para sahabat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudarasaudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 10)
Akhirnya, marilah kita terus memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar senantiasa diberi hidayah dan taufik-Nya agar istiqamah di atas jalan yang benar dan diselamatkan dari akidah-akidah yang menyimpang, yaitu akidah yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالمَِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَكْمَلَ بِهِ الدِّيْنَ، وَأَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالمَِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ :
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Meyakini kejujuran dan amanah para sahabat dalam menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah keharusan karena hal tersebut menunjukkan cintanya seseorang kepada mereka. Begitu pula menjaga lisan dari menghina dan merendahkan mereka adalah merupakan bentuk dari pengagungan terhadap al- Qur’an dan as-Sunnah serta pembelaan terhadap agama Islam.
Hadirin rahimakumullah,
Oleh karena itu, tidak boleh bagi kaum muslimin untuk ikut larut dalam fitnah atau pertikaian yang terjadi di antara para sahabat. Jangan tertipu dengan pemikiran yang seakan-akan memuliakan ahlul bait atau salah seorang sahabat namun dengan menjatuhkan sahabat yang lain sebagaimana keyakinan kelompok sesat yang disebut Syiah yang di antara akidahnya adalah menghina para sahabat dan juga istri Nabi n.
Bahkan, mereka mengafirkan sebagian besar para sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini. Maka dari itu, wajib bagi kaum muslimin untuk berhati-hati dari agama yang menyimpang ini. Dengan berbagai tipu dayanya, mereka berupaya untuk memengaruhi kaum muslimin. Kaum muslimin benar-benar terancam oleh bahaya yang akan merusak agama mereka jika tidak waspada dan menjauhi kelompok sesat ini. Apalagi ketika sebagian orang yang ditokohkan oleh kaum muslimin menyatakan bahwa kelompok ini bukanlah kelompok yang sesat, maka ancamannya semakin besar. Mereka juga akan semakin gencar menyebarkan ajarannya karena mendapat angin segar untuk menyebarkan ajaran sesatnya.
Akibatnya, banyak kaum muslimin di negeri ini yang terpengaruh dengan pemikiran sesat mereka, bahkan banyak yang tertarik mendalaminya dengan mengikuti pendidikan secara cumacuma di negeri Iran yang merupakan negeri Syiah.
Hadirin rahimakumullah,
Akhirnya kita memohon kepada Allah Subhanahu wata’alaagar menunjukkan kepada kita kebenaran sebagai kebenaran untuk kita menjalankannya dan agar Allah Subhanahu wata’ala menunjukkan kepada kita kesalahan sebagai kesalahan untuk kita menjauhinya.


(Tulisan ini dsampaikan pd khutbah jum'at di Al Amin Jl.Thamrin Magetan oleh Kang Asri)
 

__________________________________________

Anak dan Masa Depan Umat Islam
Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Kalimat seperti ini sudah seringkali kita dengar. Tak ada yang memungkiri ucapan itu, karena memang itu sebuah kenyataan bukan hanya sekedar ungkapan perumpamaan, benar-benar terjadi bukan sebatas khayalan belaka. Karenanya sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal mendidiknya sehingga kelak mereka menjadi para penegak dan pelopor masa depan umat Islam.
Lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarganya, sebagai “lembaga” pendidikan yang paling dominan. Sesungguhnya anak itu adalah amanat bagi kedua orangtuanya. Di saat hatinya masih bersih, putih, sebening kaca, jika sedari kecil dibiasakan dengan kebaikan dan diajari, maka ia pun akan tumbuh menjadi seorang yang baik, insya Allah akan bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika sedari kecil dibiasakan dengan kejelekan dan hal-hal yang buruk, serta diterlantarkan, maka kelak akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian rusak dan hancur. Kerugian yang lebih besar yang akan dipikul kedua orang tuanya dan umat umumnya.
Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orangtuanya.” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dengan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6).
Keluarga, terlebih khusus kedua orangtua (atau walinya) adalah unsur-unsur yang paling berpengaruh dalam membangun kepribadian seorang anak.
Zubair bin Awam, adalah salah seorang dari pasukan berkudanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, disebut oleh Umar ibnul Khattab sebagai, “Satu orang Zubair menandingi seribu orang laki-laki.” Hal ini dikarenakan ia seorang pemuda yang kokoh aqidahnya, terpuji akhlaqnya, tumbuh di bawah binaan ibunya Shofiyah binti Abdul Mutholib, bibinya Rasulullah dan saudara perempuannya Hamzah.
Ali bin Abi Tholib sejak kecil menemani Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bahkan dipilih menjadi menantunya. Ia tumbuh sebagai sosok seorang pemuda teladan bagi para pemuda seusianya, dia tumbuh di bawah didikan ibunya Fathimah binti Asad dan yang menjadi mertuanya Khodijah binti Khuwailid.
Begitu pula dengan Abdullah bin Ja’far, seorang bangsawan Arab yang terkenal kebaikannya, di bawah bimbingan ibunya Asma binti Umais.

Orangtua mana yang tidak gembira jika anaknya tumbuh seperti Umar ibnu Abdul Aziz. Pada usianya yang masih kecil ia menangis, kemudian ibunya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis ?”. Ia menjawab, “Aku ingat mati.” – waktu itu ia telah menghafal Al Qur’an – ibunya pun menangis mendengar penuturannya.
Berkat didikan dan penjagaan ibunya yang sholihah, Sufyan Ats Tsauri menjadi ulama besar, amirul mukminin dalam hal hadits. Saat ia masih kecil ibunya berkata padanya, “Carilah ilmu, aku akan memenuhi kebutuhanmu dengan hasil tenunanku.”
Subhanallah, anak-anak kita rindu akan ucapan dan kasih sayang seorang ibu yang seperti ini, seorang ibu yang pandangannya jauh ke depan. Seorang ibu yang amat  arif bijaksana.
Ayyuhal ikhwah -semoga dirahmati Allah- lihatlah bagaimana para pendahulu kita yg sholih, mereka mengerahkan segala usaha dan waktunya dalam rangka mentarbiyah anak-anaknya yang kelak menjadi penentu baik buruknya masa depan umat. Jangan sampai seorang pun di antara kita berprasangka mencontoh para pendahulu yang sholih adalah berarti kembali ke belakang. Di saat orang-orang berlomba-lomba meraih gengsi modernisasi, ketahuilah bahwa mencontoh sebaik-baik umat yang dilahirkan di tengah-tengah manusia adalah berarti satu kemajuan yang besar, cara yang amat canggih dalam membangun aqidah, memperbaiki akhlaq yang bejat serta membendung semaraknya free children, sehingga menghantarkan mereka kepada apa yang telah diraih oleh generasi yang mulia, yang tiada tandingannya.
Meniti jalan mereka dalam rangka mentarbiyah (mendidik) anak berarti mempersiapkan konsep perbaikan umat di masa yang akan datang. Perhatian serius dan tarbiyah yang benar sangat dibutuhkan di zaman yang dipenuhi berbagai fitnah ini, baik fitnah syahwat maupun syubhat, yang terus memburu anak-anak kita dari segala arah.  Siapa yang menggembala kambing di tempat rawan binatang buas, kemudian dia lalai, maka singa akan menerkam gembalaannya.
Berikut ini adalah beberapa langkah dasar dalam mendidik, yang telah disarikan dari Al Qur’an dan As-Sunnah :
Pertama : mengajarkan tauhid kepada anak, mengesakan Allah dalam hal beribadah kepada-Nya, menjadikannya lebih mencintai Allah daripada selain-Nya, tidak ada yg ditakutinya kecuali Allah. Ini pendidikan yang paling urgen di atas hal-hal penting lainnya.
Kedua : mengajari mereka sholat dan membiasakannya berjama’ah.
Ketiga : mengajari mereka agar pandai bersyukur kepada Allah, kepada kedua orang-tua, dan kepada orang lain.
Keempat : mendidik mereka agar taat kepada kedua orangtua dalam hal yang bukan maksiat, setelah ketaatan kepada Allah dan rosul-Nya yang mutlak.
Kelima : menumbuhkan pada diri mereka sikap muroqobah merasa selalu diawasi Allah. Tidak meremehkan kemaksiatan sekecil apapun dan tidak merendahkan kebaikan walau sedikit.
Keenam : memberitahu mereka akan wajibnya mengikuti sabilul mukminin al muwahidin (jalannya mukminin yang bertauhid), salafush sholih generasi terbaik umat ini, dan memberikan loyalitas kepada mereka.
Ketujuh : mengarahkan mereka akan pentingnya ilmu Al Qur’an dan Sunnah.
Kedelapan : menanamkan pada jiwa mereka sikap tawadlu, rendah hati, dan rujulah serta syaja’ah (kejantanan dan keberanian). Dan masih banyak lagi selain apa yang penulis uraikan di sini.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita anak-anak yang sholih. Amin ya Mujiibas sailiin. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang berkata : Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS Al Furqoon: 74).
Ayyuhal ikhwah -semoga dirahmati Allah- begitulah seharusnya mendidik anak, ini adalah salah satu tugas utama bagi para orangtua, menelantarkannya berarti menelantarkan amanat yang diberi oleh Allah, membiarkannya adalah berarti membiarkan kehancuran anak, orangtuanya, umat, bangsa, dan negara. Sedangkan mendidiknya adalah cahaya masa depan umat yang cerah yang berarti juga mengangkat derajat sang anak dan derajat kedua orangtuanya di surga. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Akan diangkat derajat seorang hamba yang sholih di surga. Lalu ia akan bertanya-tanya: Wahai Rabb apa yang membuatku begini ?”. Kemudian dikatakan padanya, “Permohonan ampun anakmu untukmu.” (HR Ahmad dari sahabat Abu Hurairoh). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakan nya.” (QS Ath Thuur: 21). Allah-lah yang memberi taufiq kepada apa yang dicintai-Nya dan diridloi-Nya.
Walhamdulillahi robbil ‘alamin. Wal Ilmu indallah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar